My Life : Perjalanan untuk Menerima Diri
Halo,
gimana kabarnya? Semoga selalu sehat. Aku menulis ini ketika dunia masih kehilangan
penghuni bumi karena corona. Lumayan exhausted
ya dikurung di rumah berbulan-bulan, lalu lihat masih ada yang gak percaya
corona atau asik jalan-jalan di mall dan sebagainya. Gak apa-apa semua akan berlalu,
let it flow, jangan dibawa stress,
dibawa nonton Netflix aja okay?
Nah, selama
pengurungan diri, aku kadang jadi suka merenung, tiba-tiba inget masa lalu.
Kebanyakan yang memalukan dan bikin pengen ngilangin diri, tapi lebih banyak lagi
yang buat bangga. Efek samping mengingat masa lalu, apa coba? Yup, penyesalan.
Penyesalan datang terakhir, kalau di awal? YA! Betul, itu pendaftaran.
Masa lalu
aku, dipenuhi tangisan dan kebencian pada diri sendiri. Aku ini selalu jadi
anak yang paling pendek di kelas, aku juga chubby, gigiku juga gak rapi dan
ompong (diperkirakan sakit gigi semester sekali). Hm, ini aku cerita yang
jelek-jelek dulu ya.
Waktu pulang dari sekolah, aku yang ketika itu masih SMP harus melewati gang kecil untuk sampai ke rumah. Di depan gang, ada anak laki-laki yang ngumpul. Disana aku mendapat ledekan,
“Kamu udah SMP, kok badannya kayak anak TK.”
Sesampainya
di rumah aku nangis kenceng, orang rumah sampai ngira aku dipukulin. Itu
pertama kalinya ada stranger yang
mengomentari fisikku. Dari keluarga besar mah sering ya bahkan lebih
menyakitkan namun aku tahu mereka bercanda.
Cerita di
SMA berbeda lagi. Dulu itu, aku jadi pertugas yang memeriksa atribut pakaian
peserta upacara. Sebagai perempuan yang tingginya kurang dari 150 cm, aku
bersusah payah melewati bahu murid-murid lain yang sejajar dengan kepalaku. Disaat
aku sedang maju, saat itulah ada sebuah siku yang mengenai pipiku. Murid itu
minta maaf, namun aku merasa malu. Aku menyelesaikan tugasku sembari menahan
tangis.
Pokoknya
aku benci hari Senin. Karena ketika upacara, kadang yang pendek harus di depan,
kadang juga dibelakang, aku juga tidak tahan harus berdiri diantara badan
teman-teman yang lebih tinggi. Sering kali aku kehabisan nafas.
Aku memiliki
rasa percaya diri yang rendah sejak SMP sampai SMA kelas dua. Aku bisa berbicara
lantang atau presentasi dengan jelas di depan kelas tetapi selalu ada yang
menghantuiku sebelum dan sesudah melakukannya. Aku takut karena aku merasa ada
yang kurang dengan diriku. Aku takut ketika aku maju ada banyak orang yang menyadari
bahwa gigiku jelek dipandang atau aku terlihat konyol karena jadi yang paling
pendek di antara teman lainnya.
Ketika merasa
sedih akan bentuk tubuhku, aku langsung mengalihkan perhatianku kepada
kelebihanku. Banyak yang bilang aku baby
face, aku juga orang yang lucu dan dapat diandalkan, aku bisa edit video,
edit foto, dan nulis (Kalau ini aku lagi promosi, yuk, aku buka joki edit foto,
video, dan nulis).
Jadi,
langkah pertama kita untuk menerima diri adalah cari kelebihan kita. Gak usah
yang muluk-muluk kayak aku hahaha. Contohnya bisa, senyum kamu manis, tulisan
kamu bagus, mobil kamu Lamborghini, akun twitter kamu di followback Selena
Gomez, dan masih banyak lagi hal kecil yang tanpa kamu sadari bisa kamu
banggakan. Seperti bisa baca tulisan aku /kabuuuur.
Tapi
teman-teman, berkat tubuh kecil nan imut aku ini, aku jadi lebih mudah diingat.
Aku ikut organisasi ketika SMA dan banyak yang mengenaliku karena tubuhku. Tetapi
aku juga tidak mau dikenal hanya karena pendeknya, sebab aku punya banyak
kelebihan yang bisa ditunjukkan. Begitu pun kamu.
Nah, jadi, langkah kedua adalah jadikan kelemahan menjadi kekuatan. Mungkin kamu tidak menyangka kalau nantinya kelemahanmu bisa jadi nilai plus atau hal yang buat kamu punya kesempatan untuk menunjukkan kelebihan kamu.
Oh! Ada
satu nasihat yang akan selalu aku ingat ketika sedang insecure. Aku pernah membacanya disuatu buku, namun aku lupa
judulnya. Intinya, kalau ada hal yang gak bisa kamu ubah saat itu juga, jangan
dipikirkan. Pikirkan dan lakukan hal yang bisa kamu ubah.
Misalnya,
aku pendek dan chubby. Tinggi tubuhku
sudah tidak bisa bertambah karena sudah melewati batas usia, namun aku bisa mengubah
berat badan jika berniat melakukannya. Yang mana untuk itu aku sudah berniat
namun masakan mamah yang berkalori dan banyak santan menggodaku.
Menerima diri sendiri memang terdengar tidak mudah. Tapi, kita selalu bisa berusaha. Aku butuh waktu beberapa tahun untuk menerima bentuk tubuhku dan merasa bangga memilikinya. Kamu bisa lebih cepat bisa lebih lama, tidak masalah. Kita sama-sama manusia, dan tidak ada yang bisa membedakan kita.
Ayo, kita
maju. Kita hasilkan sesuatu. Buang rasa malu. Dan jadi pribadi baru.
Segitu aja
dari aku. Masih banyak yang kurang namun aku berharap dapat membantu. Kalau mau
cerita-cerita, boleh via komentar atau lewat ATM.
Terima
kasih semuanya. Sampai ketemu lagi di post selanjutnya!
Komentar
Posting Komentar